Kabupaten Bandung — RSUD Majalaya menggelar seminar bertema pengenalan kasus rujukan bedah saraf di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) serta tatalaksana awal Sindrom Koroner Akut (SKA) sebagai langkah strategis memperkuat sistem pelayanan kesehatan di lini terdepan. Rabu, 08 April 2026.
Kegiatan ini tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan, tetapi juga memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai alur penanganan medis. Dengan pemahaman tersebut, pasien diharapkan dapat memperoleh layanan yang cepat, tepat, dan optimal sejak pertama kali datang ke fasilitas kesehatan.
Direktur RSUD Majalaya, drg. H. Anang Prasetiyono, Sp.BM(K) saat di temui menegaskan bahwa penguatan peran FKTP menjadi kunci dalam sistem rujukan berjenjang.
“Tujuan praktisnya agar pasien memahami proses penanganan, sehingga saat datang ke fasilitas kesehatan, tindakan dapat langsung dilakukan secara maksimal,” ujarnya.
Dari sisi layanan, RSUD Majalaya kini telah memiliki dokter spesialis bedah saraf dengan kualifikasi fellowship yang kompeten dalam menangani operasi, termasuk kasus stroke dan gangguan neurologis lainnya.
Selain itu, pembangunan fasilitas catheterization laboratory (cathlab) tengah dilakukan oleh pemerintah. Fasilitas ini nantinya akan dilengkapi peralatan intervensi jantung modern untuk menangani berbagai kasus, termasuk Sindrom Koroner Akut.
Dengan hadirnya cathlab, pasien jantung tidak lagi harus dirujuk ke luar daerah. Layanan seperti pemasangan ring jantung diharapkan dapat dilakukan langsung di RSUD Majalaya, sehingga mempercepat penanganan dalam kondisi darurat.
Dari sisi pembiayaan, layanan tersebut direncanakan dapat ditanggung oleh BPJS Kesehatan, sehingga lebih terjangkau bagi masyarakat. Namun, operasional cathlab masih dalam proses dropping alat dari kemenkes.
“Kerja sama dengan BPJS menjadi kunci agar layanan ini dapat berjalan dan dimanfaatkan masyarakat luas,” kata drg. Anang.
Dalam implementasinya, RSUD Majalaya juga memperkuat jejaring rujukan dengan berbagai fasilitas kesehatan di wilayah sekitar, seperti R.S Cicalengka, RS AMC, RSKK, RS.MBS, RS Bedas Kertasari, Tegaluar, serta puskesmas dan klinik lainnya.
Melalui jejaring tersebut, pasien dengan indikasi penyakit jantung yang ditemukan di klinik maupun rumah sakit sekitar dapat segera dirujuk ke RSUD Majalaya untuk mendapatkan penanganan lanjutan yang lebih komprehensif.
Ke depan, RSUD Majalaya menargetkan cathlab dapat mulai beroperasi pada tahun ini. Dengan demikian, layanan intervensi jantung, termasuk pemasangan ring, dapat dilakukan secara lokal tanpa harus menunggu rujukan ke rumah sakit di luar wilayah.
Selain itu, diharapkan dokter bedah saraf dan dokter intervensi jantung di RSUD Majalaya mampu memberikan penanganan darurat hingga tindakan operasi secara langsung di daerah, sehingga mempercepat waktu respons medis dan meningkatkan keselamatan pasien.
Penguatan kolaborasi antar fasilitas kesehatan di Kabupaten Bandung juga menjadi fokus utama. Sinergi antara rumah sakit, puskesmas, dan seluruh pemangku kepentingan diyakini akan menjadi kunci keberhasilan dalam menghadirkan layanan kesehatan yang terintegrasi dan responsif.
Melalui langkah ini, RSUD Majalaya optimistis mampu memberikan pelayanan kesehatan yang lebih cepat, tepat, dan merata bagi masyarakat, khususnya dalam penanganan kasus-kasus kegawatdaruratan. Tutup Direktur RSUD Majalaya.






